

Tiga hari menjadi waktu yang istimewa bagi murid kelas 6 SD Islam Al Azhar 17 Bintaro. Bertempat di Diklat YPI Al Azhar, Anyer–Cilegon, Banten, para murid mengikuti kegiatan Pesantren Akhlak Mulia (SALAM) dengan tema “Jalin Persahabatan, Perkuat Silaturahmi, dan Tebar Kepedulian.”
Kegiatan SALAM dibuka secara resmi oleh Kepala Kurikulum TK-SD YPI Al Azhar, Ibu Nani Aryani, M.Pd. Pembukaan tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan pembinaan yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi para murid.
SALAM merupakan rangkaian pembinaan yang dirancang untuk menguatkan pemahaman keislaman sekaligus membentuk karakter, adab, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian murid. Selama tiga hari, para murid tidak hanya belajar menjalankan ibadah dan mengikuti berbagai kegiatan, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga dalam membangun persahabatan, mempererat silaturahmi, serta menunjukkan kepedulian kepada sesama dan lingkungan.

Berada jauh dari rutinitas sekolah dan lingkungan rumah, para murid mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka belajar mengatur diri, menjaga kebersamaan, menjalankan ibadah dengan tertib, saling membantu, serta mengambil berbagai peran dalam kegiatan keagamaan dan sosial.
SALAM menjadi ruang bagi murid untuk memahami bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Setiap aktivitas, mulai dari bangun dan mempersiapkan diri, melaksanakan ibadah, mengikuti pembelajaran, menjaga kebersihan, hingga berinteraksi dengan teman, menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan penguatan hubungan antarsesama.
Belajar Manasik Haji Secara Langsung

Salah satu kegiatan utama dalam SALAM adalah manasik haji. Melalui kegiatan ini, murid mendapatkan pengalaman untuk memahami rangkaian pelaksanaan ibadah haji dengan lebih konkret.
Tidak hanya mengenal teori, murid diajak mempraktikkan tahapan-tahapan manasik sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan berkesan. Dalam prosesnya, murid belajar tentang makna ketaatan, kesabaran, kedisiplinan, ketertiban, serta pentingnya mengikuti tuntunan ibadah.
Kegiatan manasik juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai persahabatan dan kebersamaan. Para murid mengikuti rangkaian kegiatan bersama-sama, belajar tertib dalam barisan, saling membantu, serta menjaga sikap selama pelaksanaan kegiatan.
Melalui kegiatan tersebut, murid memahami bahwa ibadah juga mengajarkan pentingnya memperhatikan orang lain. Sikap saling mendukung, menghargai, dan membantu menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi serta menumbuhkan kepedulian.
Dengan pengalaman tersebut, manasik haji tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang tata cara ibadah, tetapi juga menjadi pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Menguatkan Adab dalam Kehidupan Sehari-hari
Sesuai dengan namanya, Pesantren Akhlak Mulia memberikan perhatian besar pada pembiasaan adab. Murid diajak untuk memahami bahwa akhlak tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus dilatih dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Selama mengikuti kegiatan, murid belajar menerapkan adab kepada guru, teman, lingkungan, dan diri sendiri. Sikap disiplin, menghargai orang lain, menjaga kebersihan, bertanggung jawab, berbicara dengan santun, mengikuti aturan, serta peduli terhadap kebutuhan teman menjadi bagian dari pembelajaran.
Tema “Jalin Persahabatan, Perkuat Silaturahmi, dan Tebar Kepedulian” diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menyapa teman, bekerja sama, membantu teman yang membutuhkan, berbagi, menjaga perasaan orang lain, dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang baik.
Situasi pesantren juga memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar mengelola diri sendiri. Mereka dituntut lebih mandiri dalam mempersiapkan kebutuhan, menjaga barang pribadi, mengatur waktu, serta menjalankan berbagai aktivitas sesuai jadwal.
Pengalaman sederhana tersebut menjadi latihan penting bagi murid kelas 6 untuk mempersiapkan diri menuju jenjang pendidikan berikutnya sekaligus membangun hubungan yang lebih baik dengan orang-orang di sekitarnya.

Bersama Al-Qur’an, Menguatkan Hafalan dan Murojaah
Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan SALAM. Di sela-sela berbagai aktivitas, murid mendapatkan waktu untuk menghafal dan murojaah Al-Qur’an.
Suasana yang berbeda dari kegiatan belajar sehari-hari memberikan kesempatan kepada murid untuk lebih fokus dalam menjaga hafalan. Kegiatan dilakukan sebagai bagian dari pembiasaan agar interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya berlangsung saat berada di sekolah, tetapi menjadi bagian dari keseharian.
Melalui hafalan dan murojaah, murid juga belajar tentang istiqamah. Mereka memahami bahwa menjaga hafalan membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan konsistensi.
Kegiatan ini juga dapat dilakukan secara bersama-sama sehingga murid saling menyemangati dan membantu. Dengan demikian, kebersamaan dalam menjaga hafalan menjadi salah satu cara untuk mempererat persahabatan dan menumbuhkan kepedulian terhadap perkembangan teman.

Shalat Berjamaah sebagai Pembiasaan
Selama tiga hari mengikuti SALAM, murid juga dibiasakan menjalankan shalat berjamaah. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membangun kedisiplinan ibadah sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.
Shalat berjamaah mengajarkan murid untuk menghargai waktu, mengikuti aturan, dan menempatkan ibadah sebagai bagian utama dalam keseharian. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat terus terbawa ketika murid kembali ke rumah dan lingkungan sekolah.
Kebersamaan dalam shalat juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt. Murid belajar berdiri bersama, menjaga ketertiban, menghormati orang lain, dan membangun hubungan yang dilandasi nilai keimanan.
Tidak berhenti pada pelaksanaan shalat, murid juga diberikan kesempatan untuk mengambil peran dalam kegiatan ibadah, seperti mengumandangkan adzan. Pengalaman ini menjadi latihan keberanian sekaligus tanggung jawab bagi murid.
Melatih Kepercayaan Diri melalui Kultum dan MC
SALAM juga menjadi ruang bagi murid untuk belajar tampil dan berbicara di depan orang lain. Beberapa murid mendapatkan kesempatan untuk menjadi MC maupun menyampaikan kultum.
Menjadi MC bukan sekadar berbicara di depan teman-teman. Murid belajar membuka dan menutup acara, menyampaikan susunan kegiatan, menjaga komunikasi, serta memastikan acara berjalan dengan tertib.
Sementara melalui kultum, murid belajar menyampaikan pesan kebaikan berdasarkan nilai-nilai Islam. Mereka dilatih untuk menyusun gagasan, berbicara dengan percaya diri, dan menyampaikan pesan secara santun.
Pesan yang disampaikan juga dapat menguatkan pentingnya persahabatan, silaturahmi, dan kepedulian. Dari kegiatan tersebut, murid belajar bahwa keberanian berbicara perlu disertai tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan serta kepedulian terhadap orang lain.


Menjelajah Alam, Belajar dari Lingkungan
Pembelajaran juga berlangsung di ruang terbuka melalui kegiatan jelajah alam di sekitar area Diklat YPI Al Azhar.
Kegiatan ini memberikan pengalaman bagi murid untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar. Di tengah suasana alam, murid belajar bekerja sama, mengikuti arahan, menjaga keselamatan, dan saling memperhatikan satu sama lain.
Jelajah alam juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan rasa syukur atas berbagai ciptaan Allah Swt. Murid diajak melihat bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber pembelajaran yang memberikan pengalaman sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap alam.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan antarmurid. Dalam perjalanan, mereka belajar bahwa setiap anggota kelompok memiliki peran dan perlu saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.
Melalui kegiatan tersebut, tema “Tebar Kepedulian” diwujudkan dengan menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, memperhatikan keselamatan teman, serta saling membantu selama perjalanan.




Belajar Mandiri, Disiplin, dan Bertanggung Jawab
Salah satu nilai penting yang tumbuh selama kegiatan SALAM adalah kemandirian. Tinggal bersama teman dalam lingkungan pesantren membuat murid belajar melakukan berbagai hal secara lebih mandiri.
Mereka belajar mengikuti jadwal, mempersiapkan diri sebelum kegiatan, menjaga barang pribadi, menjaga kebersihan, serta menyelesaikan tanggung jawab masing-masing.
Kemandirian tersebut tidak berarti berjalan sendiri tanpa memperhatikan orang lain. Sebaliknya, murid belajar bahwa menjadi mandiri juga berarti mampu membantu, peduli, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Bagi murid kelas 6, pengalaman ini menjadi latihan yang sangat berarti. Mereka mulai belajar bahwa semakin bertambah usia, semakin besar pula tanggung jawab yang harus mampu diemban.
Kedisiplinan pun dilatih melalui rutinitas yang terjadwal. Setiap kegiatan memiliki waktu dan aturan yang harus diikuti. Dari sinilah murid belajar bahwa kedisiplinan bukan sekadar menjalankan perintah, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.
Reward bagi Murid yang Tertib dan Disiplin
Sebagai bentuk apresiasi, diberikan reward kepada murid yang telah tertib dan disiplin mengikuti seluruh rangkaian kegiatan SALAM. Penghargaan ini diberikan kepada murid yang mampu mengikuti jadwal, menaati aturan, menjaga sikap, bertanggung jawab, serta menunjukkan semangat dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Pemberian reward bukan hanya tentang hadiah, melainkan bentuk penghargaan atas usaha dan kebiasaan baik yang telah ditunjukkan murid. Apresiasi ini juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya saling menghargai dalam persahabatan.
Melalui penghargaan tersebut, murid belajar bahwa setiap usaha untuk bersikap tertib, disiplin, bertanggung jawab, peduli, dan mendukung teman merupakan hal yang bernilai dan patut diapresiasi.
Reward diharapkan dapat memotivasi penerima untuk mempertahankan sikap positif sekaligus mendorong seluruh murid agar terus membangun kedisiplinan, kepedulian, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.


Tiga Hari yang Menjadi Bekal
Rangkaian Pesantren Akhlak Mulia (SALAM) selama 24–26 Agustus 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan tiga hari di luar sekolah. Ada banyak pengalaman sederhana yang diharapkan menetap dalam diri murid: bangun dan beraktivitas dengan tertib, melaksanakan shalat berjamaah, menjaga hafalan Al-Qur’an, berbicara dengan santun, menghormati guru, menjalin persahabatan, memperkuat silaturahmi, bekerja sama dengan teman, membantu sesama, menjaga lingkungan, berani mengambil peran, serta menunjukkan kedisiplinan dan tanggung jawab.
Setiap kegiatan memberikan pelajaran dengan caranya masing-masing. Manasik haji mengajarkan ketaatan dan ketertiban. Hafalan Al-Qur’an melatih kesungguhan dan istiqamah. Shalat berjamaah membangun kedisiplinan ibadah dan kebersamaan. Kultum dan MC melatih keberanian serta komunikasi. Adzan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Jelajah alam mengajarkan kerja sama, rasa syukur, dan kepedulian. Sementara kehidupan bersama selama pesantren melatih kemandirian, persahabatan, silaturahmi, dan kepedulian. Reward bagi murid yang tertib dan disiplin menjadi bentuk apresiasi sekaligus penyemangat untuk terus mempertahankan kebiasaan baik.
Pada akhirnya, pendidikan akhlak tidak selalu hadir dalam bentuk teori. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang, dari pengalaman yang dirasakan langsung, dari teladan yang dilihat setiap hari, serta dari hubungan baik yang dibangun bersama.
Melalui Pesantren Akhlak Mulia (SALAM), murid kelas 6 SD Islam Al Azhar 17 Bintaro diharapkan tidak hanya pulang membawa kenangan tentang tiga hari di Anyer, tetapi juga membawa kebiasaan baik, persahabatan yang semakin erat, silaturahmi yang semakin kuat, dan kepedulian yang terus tumbuh setelah kegiatan berakhir.
Karena sejatinya, keberhasilan sebuah pembelajaran bukan hanya ketika murid mampu menjawab pertanyaan, tetapi ketika ilmu yang dipelajari mampu terlihat dalam sikap, perilaku, dan cara mereka memperlakukan orang lain.
Tiga hari di Anyer menjadi langkah untuk tumbuh lebih mandiri, lebih beradab, lebih dekat dengan Al-Qur’an, lebih disiplin, lebih peduli, serta semakin mampu menjalin persahabatan, memperkuat silaturahmi, dan menebar kebaikan.





